Minggu, 01 Agustus 2010

TIGA KESALAHAN ORANG TUA



Judul buku : Dahsyatnya Hypnoparenting
Penulis : Agus Sutiyono
Penerbit : Penebar Plus
Jumlah Hal : 116
Harga : -

Orang tua memiliki peran penting dalam membantu anak meningkatkan potensi dan kecerdasannya melalui hypnoparenting. Orang tua harus konsisten terhadap perkataan dan prilakunya, juga harus mulai mengajari anak-anak untuk bersikap dewasa dan bertanggung jawab, serta berhenti membanding-bandingkan anak.

Orang tua terkadang kekurangan informasi dan pengetahuan tentang apa yang sebaiknya dilakukan dalam proses mendidik anak. Hal ini berakibat pada terjadinya beberapa kesalahan karena ketidaktahuan orang tua dalam memberikan stimulan atau rangsangan pada anak agar otaknya berfungsi optimal. Ada tiga kesalahan orang tua yang dapat menghambat pembentukan pola perilaku anak, yaitu sebagai berikut ;

1. Inkonsistensi
Dari pengalaman melakukan training hypnoparenting dan berbagai jenis training lainnya, saya menemukan banyak kasus terjadi seputar inkonsistensi orang tua. Contoh inkonsistensi ini misalnya, kita minta putra-putri untuk belajar, eh orang tuanya malah nonton sinetron. Kita menyuruh anak kita mandi, tapi kita sebagai orang tua belum. Terkadang kita berteriak meminta anak sholat, tapi justru kita sendiri belum sholat. Padahal, anak mencontoh perilaku orang tua. Parent by example, inilah yang terjadi. Anak akan melihat perilaku keseharian kita dan menduplikasinya.

Sebagai orang tua yang dijadikan teladan oleh anak-anak kita harus berusaha untuk menjaga konsistensi dalam segala hal. Jika anak melakukan hal yang baik, puji dan sesekali berilah penghargaan berupa materi. Jika anak melanggar peraturan, tegur atau berilah hukuman yang mendidik. Jika kita menginginkan anak belajar pada waktu-waktu tertentu, jangan malah menghidupkan televisi dan menonton sinetron. Berilah contoh dengan membaca buku atau bekerja dengan computer seshingga anak merasa orang tua mendukung apa yang dilakukannya.

2. Terlalu banyak intervensi
Orang tua kerap memperlakukan putra-putrinya sebagai anak-anak. Padahal, mereka adalah manusia kecil yang seharusnya sudah mulai diperkenalkan pada persoalan-persoalan yang terjadi dalam kehidupan. Anak seharusnya sudah mulai diberi arahan untuk bertanggung jawab pada diri sendiri. Salah satu hal positif dari kebiasaan orang-orang Barat adalah bagaimana mereka membiasakan anak-anak untuk tidur sendiri sejak dini. Dalam pembiasaan ini anak mulai belajar untuk melakukan dan mendapatkan sesuatu sendiri. Misalnya saja, jika anak ingin naik ketempat tidur, ia akan berusaha untuk mencapainya dengan berbagai cara. Begitu juga jika anak ingin mengambil mainan atau apapun yang dibutuhkan, ia akan berusaha sendiri untuk mendapatkannya. Hal ini merupakan pengalaman luar biasa yang membentuk anak sehingga menjadi lebih kreatif, cerdas, dan bertanggung jawab.

Hal yang sering terjadi dalam perkembangan putra-putri kita adalah orang tua kerap kali melakukan intervensi yang justru membuat anak-anak mengalami ketergantungan terhadap pertolongan kita. Sebagai contoh, ketika anak mengalami kesulitan naik ke tempat tidur, orang tua membantu dengan mendorong pantatnya atau bahkan langsung mengangkat anak ke tempat tidur. Hal ini terjadi terus menerus dalam kehidupan anak-anak kita. Tanpa disadari kita membentuk sikap mental yang tidak menunjang pembentukan karakter pejuang bagi anak-anak kita.

3. Membanding-bandingkan

Kita sebagai orang tua selalu menggunakan bahasa dan cara-cara kita tanpa mempertimbangkan bahwa anak-anak mempunyai cara dan kehidupan sendiri di masa mereka. Kita kerap membanding-bandingkan kondisi yang kita alami dengan apa yang mereka alami dan rasakan sekarang. Hal ini merupakan bentuk analogi yang tidak relevan karena jaman sekarang tentu berbeda dengan jaman para orang tua dahulu tumbuh dan berkembang. Mulailah untuk masuk dalam struktur kehidupan anak-anak dengan kesadaran bahwa masa dan era yang mereka tinggali sekarang berbeda dengan saat kita masih muda. Mulailah berusaha memahami masa sekarang ini, di mana anak-anak kita hidup dan berjuang untuk masa depan mereka. Mulailah mengubah sudut pandang dengan berusaha menyelami apa yang anak-anak kita rasakan dan alami di jaman mereka ini.

Bang Imam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar