Rabu, 27 Oktober 2010

Kampanye Air Bersih

Kondisi global pada tahun 2002 mengindikasikan bahwa dari 10 orang, 5 diantaranya memiliki akses ke suplai air berpipa di rumah, 3 orang memiliki tipe suplai air lainnya seperti mata air terlindungi atau pipa air publik, 2 orang tidak sama sekali. Dan sebagai tambahan, 4 dari 10 orang tersebut hidup tanpa sanitasi yang berarti.


Air bersih adalah salah satu jenis sumberdaya berbasis air yang bermutu baik dan biasa dimanfaatkan oleh manusia untuk dikonsumsi atau dalam melakukan aktivitas mereka sehari-hari termasuk diantaranya adalah sanitasi.

Untuk konsumsi air minum menurut Kementerian Kesehatan, syarat-syarat air layak minum adalah tidak berasa, tidak berbau, tidak berwarna, dan tidak mengandung logam berat. Walaupun air dari sumber alam dapat diminum oleh manusia, terdapat risiko bahwa air ini telah tercemar oleh bakteri, misalnya Escherichia coli atau zat-zat berbahaya. Bahkan andai bakteri dapat dibunuh dengan memasak air hingga 100 °C, banyak zat berbahaya, terutama logam, tidak dapat dihilangkan dengan cara ini.

Air adalah kebutuhan dasar manusia. Namun kondisi global pada tahun 2002 mengindikasikan bahwa dari 10 orang, 5 diantaranya memiliki akses ke suplai air berpipa di rumah, 3 orang memiliki tipe suplai air lainnya seperti mata air terlindungi atau pipa air publik, 2 orang tidak sama sekali. Dan sebagai tambahan, 4 dari 10 orang tersebut hidup tanpa sanitasi yang berarti.

Dalam Earth Summit 2002, para pemerintahan dari berbagai negara menyetujui Plan of Action untuk;
1.      Mengurangi hingga setengah dari jumlah rakyat yang tidak mampu mendapatkan air minum yang aman di tahun 2015. Global Water Supply and Sanitation Assessment 2000 Report (GWSSAR) mendefinisikan bahwa setiap orang harus mendapatkan akses sebesar 20 liter per harinya dari sumber sejauh maksimal satu kilometer dari tempat tinggalnya.
2.      Mengurangi hingga setengahnya jumlah rakyat yang tidak memiliki akses ke sanitasi dasar. GWSSAR mendefinisikan sanitasi dasar sebagai sistem pembuangan pribadi atau berbagi namun bukan milik umum yang memisahkan limbah dari kontak dengan manusia.

Di tahun 2025, kelangkaan air akan lebih terlihat di negara miskin di mana sumber daya terbatas dan perkembangan populasi meningkat, seperti di Afrika, Timur Tengah, dan beberapa bagian di Asia. Di tahun 2025, area urbanisasi yang besar akan membutuhkan banyak infrastruktur baru untuk menyediakan air yang aman dan sanitasi yang pantas. Hal ini diperkirakan akan menimbulkan konflik dengan pengguna air di pertanian, yang saat ini menggunakan sebagian besar air yang digunakan oleh seluruh manusia.

1,6 miliar orang telah mendapatkan akses sumber air yang aman sejak tahun 1990. Proporsi masyarakat di negara-negara berkembang dengan akses air yang aman dikalkulasikan meningkat dari 30 persen hingga 71 persen di tahun 1990, 79 persen di tahun 2000, dan 84 persen di tahun 2004. Kecenderungan ini diperkirakan akan berlanjut. (red)

Prilaku CTPS Menurunkan Diare

Jakarta – Penyakit diare masih merupakan masalah global dan banyak berjangkit di negara-negara berkembang dengan kondisi sanitasi lingkungan yang buruk, tidak cukup pasokan air bersih, kemiskinan, dan pendidikan yang rendah. Insiden diare bervariasi di setiap daerah di setiap wilayah, musim, dan masa-masa endemik seperti kejadian luar biasa kolera.

Umumnya insiden tertinggi terjadi pada dua tahun pertama usia anak yang menurun dengan meningkatnya usia. Hal itu disampaikan Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama, Sp.P (K), MARS, DTM&H pada Seminar memperingati Hari Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS) Sedunia ke 3 Tahun 2010, 7 Oktober 2010, di Bandung.

Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar tahun 2007 (Riskesdas, 2007), menemukan 34% kejadian Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) dan 16% kejadian diare pada anak umur 1–4 tahun. Walaupun perilaku CTPS sudah dipahami masyarakat secara luas, namun praktiknya masih belum banyak diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Hal ini menunjukkan perlunya perhatian khusus secara berkesinambungan terhadap upaya pencegahan penyebaran penyakit tersebut terutama anak-anak. Kajian ilmiah yang dilakukan oleh Curtis and Cairncross (2003) menyarankan bahwa perilaku cuci tangan pakai sabun (CTPS) khususnya setelah kontak dengan feses (setelah ke jamban dan membantu anak ke jamban), dapat menurunkan insiden diare hingga 42-47%.

Selain menurunkan insiden diare, kata Dirjen P2PL, perilaku CTPS juga dapat menurunkan transmisi ISPA hingga lebih dari 30%, bahkan pada kondisi lingkungan dengan kontaminasi feses yang sangat tinggi serta sanitasi yang buruk (penelitian rabie dan Curtis 2005). Bahkan UNICEF menemukan perilaku CTPS dapat juga menurunkan 50% insiden Avian Influenza.

Menurut Prof. Tjandra, semakin banyak anak yang melakukan CTPS, akan memberikan kontribusi signifikan terhadap pencapaian Tujuan Pembangunan Millenium  (MDGs) untuk menurunkan 2/3 kasus kematian anak pada tahun 2015 yang akan datang. Secara sinergis,perilaku ini juga diharapkan membantu mencegah penyebaran virus H1N1 di Indonesia.

Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada tahun 2008 menyerukan perlunya peningkatan praktik higiene sanitasi di seluruh dunia. Untuk itu sejak tahun 2008, “Hari Cuci Tangan Pakai Sabun Sedunia” (HCTPS) ditetapkan pelaksanaannya secara global pada tanggal 15 Oktober setiap tahun, tambah Prof. Tjandra.

Berkaitan dengan kegiatan CTPS, Kementerian Kesehatan telah menerbitkan Surat Keputusan Menteri Kesehatan tentang Strategi Nasional Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) No. 852/Menkes/SK/IX/2008, yang menetapkan CTPS sebagai salah satu pilar strategi yang penting untuk dilaksanakan di Indonesia. Dengan demikian pelaksanaan kegiatan CTPS di Indonesia dapat berkesinambungan.

Diakhir sambutan, Prof. Tjandra menyampaikan bahwa seminar ini diadakan bertujuan untuk:
a)      Meningkatkan dukungan Pemerintah, Pemerintah Daerah, Swasta dan Masyarakat terhadap program CTPS,
b)      Meningkatkan kemitraan,
c)      Meningkatkan kuantitas dan kualitas informasi tentang perilaku hidup sehat dengan CTPS di seluruh kalangan,
d)     Memicu dan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya CTPS,
e)      Menjadikan Anak sekolah (SD) sebagai Agent of Change

(red/001/kemkes)