Sabtu, 20 November 2010

Budaya Mudik : Tak Sempat Menengok Ibu

Bekasi, 19 September 2010 

BUDAYA MUDIK mungkin hanya ada di Indonesia. Kalaupun ada di daerah lain, tak seheboh di Indonesia. Yang oleh sebagian penduduk perantau dianggap merupakan hal yang WAJIB. Dan budaya itu sudah berlangsung sejak puluhan atau mungkin ratusan tahun lalu. 

Budaya MUDIK atau PULANG KAMPUNG bagi perantau atau migran terjadi terutama saat menjelang lebaran tiba. Pun termasuk terjadi saat liburan sekolah. Mengapa harus mudik? Pertanyaan ini selalu membekas dihati penonton televisi yang melihat tayangan arus mudik dan arus balik. 

MUDIK biasanya dilakukan oleh perantau untuk bersilaturrahmi antar sesama keluarga yang berjauhan tempat tinggal dan tempat pekerjaan. Saat mudik memang menjadi momen yang tepat untuk dapat berkumpul kembali di rumah orang tua atau di kampung halaman dimana kita berasal (kampung ibu). Mudik juga menjadikan kita untuk sowan kepada orang tua (Ibu/Bapak) atau orang-orang tercinta, termasuk kakek, nenek, paman, bibi, kakak, adik dan mungkin teman sepermainan semasa kecil di kampung. 

Bukan tidak ada halangan dan rintangan dalam menghadapi mudik. Misalnya transportasi umum yang kurang, macet hingga puluhan kilo meter, jalan yang rusak, hingga waktu libur yang ditetapkan perusahaan yang terlalu mepet dan pendek. Namun, dengan rintangan yang seberat itu, lebih dari 50-an juta penduduk Indonesia tetap ngotot untuk melaksanakan 'KEWAJIBAN MUDIK' ke kampung halaman. 

Berbagai cerita sedih, umpatan, rasa kesal, hingga pengalaman melihat perkembangan daerah menjadi catatan dan pengalaman yang tidak terlupakan saat mudik. Banyak yang mengabadikannya menjadi memory spesial, dan menjadikan pengalaman tersebut menjadi mimpi indah. Himbauan untuk tidak mudik memakai kenderaan bermotor lebih dari 2 orang tak dihiraukan. Himbauan untuk menaiki kenderaan bak terbuka dianggap angin lalu. Himbauan untuk memperhitungkan keuangan antara tabungan dan tambahan THR juga sering tidak terpikirkan. Bahkan, banyak yang rela dengan meng-utang atau memaksakan diri demi MUDIK. 

Di DAAI TV, iklan Idul Fitri-nya minggu malam membuat saya tergelitik sekaligus sedih bercampur terharu. Iklan itu menceritakan tentang kehidupan 3 anak kecil yang bahagia hidup di kampung di tengah kemanjaan sang ibu. Sosok ibu yang penyayang digambarkan tanpa membedakan antara anak yang satu dengan yang lainnya. Sehingga, jika belum lengkap ke 3 nya sang ibu terus mencari dan memberi kasih sayangnya tanpa pamrih. Sang ibu memberikan asih dengan tulus tanpa banyak berharap dari anaknya. 

Bahkan, ia mungkin lupa akan dirinya. Setelah besar, ketiga anaknya bekerja jauh dan merantau dengan kesibukan masing-masing. Salah satu anaknya memang merawat ibunya yang sudah sepuh, sementara dua anak lainnya merantau. Tiba-tiba sang ibu sakit. Setelah diberi tahu, ternyata kesibukan kedua anaknya yang dirantau tidak dapat ditunda. Sehingga mengabaikan pesan sang kakak dan ibunya yang tengah terbaring. Namun, akhirnya mereka tetap datang, padahal sang ibu sudah sekarat. Sang ibu pun terlihat bergembira, karena anaknya tetap mampu menjenguk di tengah kesibukan sang anak atas pekerjaannya. 

TAK APA, UTAMAKAN TETANGGAMU DULU 

Ibundaku di kampung halaman selalu memberi harapan, ketabahan dan semangat terhadap anaknya. Jika tidak Mudik atau tidak sempat silaturrahmi ke kampung di hari Lebaran, sang ibu membesarkan hatinya dengan kata-kata yang sangat menyentuh...yang oleh kami membuat semangat di perantauan. 

"Mudik sih silahkan saja, tapi kalau ga sempat ya ga apa-apa. Kan kalau lebaran lebih baik silaturrahmi dan bermaafan sesama tetangga. Bukankah kalian anak-anakku berbuat salah terhadap tetangga dan teman-temanmu di situ. Kalau ibu sudah memaafkan kesalahanmu nak...ngga usah kawatir. Bermaafanlah ke tetanggamu itu lebih baik. Jangan malah kalian mudik, tapi belum bermaafan kepada tetangga. Sementara kalian banyak berbuat salah terhadapnya." 

Adakah teman-teman yang mudik tanpa sempat bertemu dan bermaafan dengan tetangga, tetapi sudah keburu mudik...!!!? 

Kasih sayang ibu yang sangat baik itu, memang tak bisa di bayar. Teringat salah satu syair tentang kasih sayang ibu terhadap anaknya... 

Ibu adalah orang yang serba kekurangan, 
Dia (Ibu) kurang pandai dalam menghitung kesalahan-kesalahan anaknya 
Dia kurang mampu mengingat beban hidup, Akibat perbuatan anaknya 
Dia kurang semangat dalam mengumpulkan harta, Sebab semua miliknya adalah untuk anaknya 
Dia kurang waktu untuk memperhatikan dirinya, Sebab seluruh waktu adalah milik anaknya 
Dan sisa waktunya adalah berdo'a...berdo'a dan berdo'a Demi Anaknya 

I Love You Mom ! 

Jika saja semua halangan, tantangan, dan hambatan dalam mudik bisa kita lewati dan selamat serta bertujuan demi membayar kasih seorang ibu, maka tantangan di jalan itu sudah dapat terbayarkan...

Namun belum seberapa atas perjuangan dan kasih sayang ibu terhadap anaknya. Mungkin hanya setitik...setitik...tik...tik............. 

by Bang Imam 
dari Pojok Kayuringin Sonoan Dikit